Qulubi, Agil Nur and Hidayat, Riyan Erwin and Fazattamam, Muhammad Iqbal (2026) Persepsi Pernikahan Ideal pada Komunitas Wibu di Lampung. As-Salam : Jurnal Studi Hukum Islam dan Pendidikan, 12 (2). ISSN 2089-6638 (Submitted)
|
PDF
Agil Nur Qulubi_2202010001_HKI_2026.pdf Download (6MB) |
Abstract
Penelitian ini berangkat dari meningkatnya konsumsi anime di kalangan Generasi Z memunculkan subkultur wibu yang berpotensi membentuk persepsi mengenai relasi romantic dan pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konstruksi pernikahan ideal pada komunitas wibu di Lampung, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, serta meninjau kesesuaian persepsi tersebut dengan prinsip hukum Islam. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap sepuluh informan berusia 18–26 tahun yang aktif mengonsumsi anime dan terlibat dalam komunitas, dipilih secara purposif. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik berdasarkan teori Parasocial Relationships dan Cultivation Theory, serta divalidasi melalui triangulasi sumber dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anime berfungsi sebagai sumber ‚relationship scripts‛ yang membentuk ekspektasi afeksi, komunikasi terbuka, komitmen, serta orientasi masa depan, meskipun pengaruhnya bersifat selektif. Beberapa informan menilai narasi anime relevan dan menginspirasi cara pandang terhadap hubungan, sedangkan yang lain menolaknya karena dianggap fiktif. Keterikatan parasosial dengan karakter anime (waifu/husbu) memunculkan spektrum realistis–idealistis yang dinegosiasikan melalui pengalaman hidup, nilai lokal, dan interaksi komunitas. Keselarasannya dengan hukum Islam terlihat pada empat unsur utama pernikahan ideal menurut wibu: saling keterbukaan, komunikasi dan musyawarah, penyelesaian konflik, dan ketertarikan fisik, yang sejalan dengan pandangan para ulama. Temuan ini menegaskan bahwa budaya populer berperan dalam membentuk persepsi pernikahan, tetapi dimoderasi oleh literasi media dan kerangka normatif agama. Implikasinya, literasi media dan pendidikan keluarga diperlukan agar individu mampu memilah inspirasi emosional dari kewajiban institusional pernikahan.
Kata-kata Kunci: Pernikahan Ideal, Wibu, Hubungan Parasosial.
| Item Type: | Article |
|---|---|
| Subjects: | Ahwal Syakhshiyyah |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Ahwal Syakhshiyyah |
| Depositing User: | Ristiani Ristiani IAIN Metro Lampung |
| Date Deposited: | 15 Apr 2026 08:47 |
| Last Modified: | 15 Apr 2026 08:47 |
| URI: | https://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/12488 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
