Konsep Maslahah Mursalah Dalam Penetapan Hukum Islam Menurut Pemikiran Najmuddin At-Thufi

Purwanto, . (2018) Konsep Maslahah Mursalah Dalam Penetapan Hukum Islam Menurut Pemikiran Najmuddin At-Thufi. Undergraduate thesis, IAIN Metro.

[img]
Preview
PDF
PURWANTO 1171763.pdf - Other

Download (5MB) | Preview

Abstract

Hukum Islam yang ditetapkan Allah SWT terhadap hamba-Nya, dalam bentuk perintah atau larangan pasti mengandung maslahah baik secara langsung maupun tidak. Maka tidak ada hukum syara‟ yang sepi dari maslahah, karenanya maslahah sangat diperhitungkan oleh mujtahid dalam berijtihad untuk menetapkan hukum suatu masalah yang tidak ditemukan hukumnya baik dalam Al-Qur‟an, Sunnah Nabi, maupun Ijma‟. Dalam hal ini, mujtahid mengunakan metode maslahah dalam menggali dan menetapkan hukum, termasuk Najmuddin At-Thufi, namun maslahah yang digunakankannya bersebrangan dengan jumhur ulama lainya. Berangkat dari permasalahan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah; Bagaimana konsep maslahah mursalah dalam penetapan hukum Islam menurut pemikiran Najmuddin At-Thufi.
Penelitian ini bertujuan untuk menambah khazanah keilmuan dalam bidang hukum Islam, khususnya maslahah mursalah dalam penetapan hukum Islam menurut pemikiran Najmuddin At-Thufi. Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian pustaka (library research), dengan sifat penelitian deskriptif analilis yaitu menjelaskan/deskripsi tentang pendapat Najmuddin AtThufi dan Imam Mazhab dalam permasalahan maslahah mursalah dalam penetapan hukum Islam. Sedangkan sumber data yang diperoleh dari sumber data primer dan sumber data sekunder.
Temuan yang diperoleh bahwa maslahah mursalah menurut Najmuddin AtThufi. Menetapkan akal lebih tinggi dari pada wahyu atau hadis karena dasar syari‟at Islam adalah kemaslahatan manusia, sedangkan maslahat itu sendiri dapat dicapai memalui akal. Namun dalam hal ini At-Thufi membatasi pengunaannya, dalam pengunaan maslahah hanya berlaku dalam bidang mu‟amalah dan adat kebiasaan sedangkan dalam ibadah itu sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Karena menurutnya, apabila terjadi pertentangan antara nash dengan maslahah, maka yang didahukan dalam konteks tersebut adalah maslahah. Namun demikian, dalam proses mendahulukan maslahah atas nash, mekanisme yang harus ditempuh adalah dengan cara takhsis dan tabyin, bukan dengan cara menghapus maupun meninggalkan aturan yang ada dalam nash. Pandangan Najmuddin AtThufi tentang maslahah adalah menetapkan akal lebih tinggi dari pada wahyu atau hadis karena dasar syari‟at Islam adalah kemaslahatan, sedangkan kemaslahatan itu sendiri dapat dicapai melalui akal.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Subjects: Ahwal Syakhshiyyah
Divisions: Pascasarjana > Ahwal Syakhshiyyah
Depositing User: Tari Eka Miyanti
Date Deposited: 04 Feb 2020 03:10
Last Modified: 04 Feb 2020 03:10
URI: https://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/1857

Actions (login required)

View Item View Item