Kalalah Menurut Imam Syafi’i Dan Hazairin Serta Implikasinya Terhadap Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia

Guntur Ageng Prayogi, M. (2018) Kalalah Menurut Imam Syafi’i Dan Hazairin Serta Implikasinya Terhadap Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia. Masters thesis, IAIN Metro.

[img]
Preview
PDF
Tesis.pdf - Other

Download (3MB) | Preview

Abstract

Al-Qur’an merupakan acuan pertama hukum dan penentuan pembagian waris. Hanya sedikit saja dari hukum-hukum waris yang ditetapkan oleh Sunnah Nabi atau dengan ijtihad para ulama. Namun perbedaan pemahaman dan aplikasi mengantarkan hukum waris bersifat legal formalis dan menyebabkan fragmentasi aliran pemikiran yang berujung dengan kelahiran mazhab-mazhab. Penyebab utama timbulnya beragam interpretasi hukum kewarisan adalah: Pertama, metode dan pendekatan yang digunakan oleh para ulama dalam melakukan ijtihad berbeda. Kedua, perbedaan kondisi masyarakat dan waktu kapan ulama melakukan ijtihad.

Kalalah merupakan kasus yang terjadi polemik tersendiri di samping kasus pembagian waris 2:1 karena Nabi SAW pun belum menjelaskannya secara detail kepada para sahabat. Kasus kalalah ini memang cukup rumit sehingga mengakibatkan terjadinya perbedaan penafsiran para ulama terhadap ayat kalalah tersebut. Berawal dari permasalahan ini, penulis ingin mengangkat judul tesis untuk membahas mengenai kalalah menurut ulama salaf (Imam Syafi’i) dan ulama khalaf (khalaf) serta imlikasinya terhadap hukum kewarisan Islam di Indonesia.

Penelitian ini, penulis menggunakan data sekunder sebagai bahan pokok, maka penelitian penulis ini merupakan penelitian pustaka (library research). Yang mana, data ini terbagi menjadi 3, yaitu bahan hukum primer (al-Qur’an dan Tafsirnya, Kitab-kitab Hadis, buku-buku karya Imam Syafi’i dan Hazairin, dan atau buku-buku yang memuat pendapat Imam Syafi’i dan Hazairin tentang kewarisan/kalalah), sekunder (buku fiqh penunjang tentang ilmu waris) dan tersier (Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Arab, dan Ensiklopedi Hukum Islam).

Hasil penelitian bahwa kalalah menunjuk kepada ahli waris, selain kedua ibu bapak dan anak. Dalam hal ini, dapat dipahami, ahli waris terdekat selain ibu bapak (orang tua) dan anak, adalah garis ke atas dan ke samping, yaitu kakek dan saudara. Oleh karena ini, mengenai kalalah ini merupakan pembahasan mengenai kemungkinan ahli waris, kedudukan dan bagian ahli waris antara saudara, kakek, dan atau saudara bersama kakek. Dan berikut merupakan salah satu bagian kemungkinan dalam kalalah, yaitu Imam Syafi'i berpendapat bahwa ayah menghalangi kakek, dan kakek menggantikan ayah, sehingga ayah dan kakek menghalangi saudara. Sedangkan menurut Hazairin kakek hanya diperbolehkan tampil (mewaris) jika tidak ada lagi keturunan, orang tua, dan tidak ada lagi saudara. Begitu pula jika terdapat keturunan yang lebih jauh dari anak, keturunan saudara (mawali bagi mendiang saudara yang bersangkutan, yaitu yang menjadi penghubung bagi mereka) kakek ataupun nenek tidak bisa mewaris, sebab berbenturan dengan perumusan surat al-Nisa': 33, yaitu tidak boleh menjadi mawali bagi orang tua (ayah atau ibu).

Permasalahan kalalah tidak tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), namun penyelesaiannya mempunyai tempat dalam KHI pada pasal 229, yaitu “Hakim dalam menyelesaikan perkara-perkara yang diajukan kepadanya, wajib memperhatikan dengan sungguh-sungguh nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat, sehingga putusannya sesuai dengan rasa keadilan”, sehingga dapat diterapkan penyelesaiannya pada pendapat imam Syafi'i.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: Ahwal Syakhshiyyah
Divisions: Pascasarjana > Ahwal Syakhshiyyah
Depositing User: Siti Ma'ani IAIN Metro
Date Deposited: 18 May 2020 03:55
Last Modified: 18 May 2020 03:55
URI: https://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/3212

Actions (login required)

View Item View Item